Rara · Personalidades
Tanto Mendut
Artista indonesio, nacido en 1954
Resumen elaborado a partir de los datos de Wikidata
En Wikipedia
Texto en indonesio Aún no hay artículo en tu idioma: extracto en indonesio.
Tanto Mendut yang bernama asli Sutanto (lahir 5 Februari 1954) adalah seniman dan budayawan berkebangsaan Indonesia. Dia adalah pendiri sekaligus pemimpin Komunitas Lima Gunung yang sering menggelar perhelatan seni-budaya berskala internasional di atas puncak gunung dengan selalu memberdayakan masyarakat di lima gunung yaitu Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh. Sutanto adalah penerima penghargaan dari Yayasan Sains Estetika dan Teknologi atas kegigihannya memberdayakan masyarakat melalui kehidupan sosiokultural. Penghargaan lain antara lain adalah Maestro Seni Tradisional dari Kementerian Pendidikan, Gus Dur Award dari Wahid Institut, lima penghargaan pemenang karya musik diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta, dll 'Mendut' di belakang nama Sutanto adalah nama tempat di sekitar Candi Mendut, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Dia memilih nama itu untuk mengekspresikan cara dia berkesenian.Sebagai budayawan, melalui kegiatan-kegiatannya, Sutanto membangun sebuah paradigma berkesenian yang menstimulasi dimensi untuk hidup bersama masyarakat seni dalam menyikapi keadaan dengan pelbagai fenomena yang berkembang dalam masyarakat kontemporer. Mengedepankan unsur kemerdekaan yang dapat menarik perhatian masyarakat dan pemerhati seni yaitu dengan membuka wacana baru dalam bereksplorasi. Tanto Mendut berhasil menumbuhkan kepercayaan masyarakat desa untuk berekspresi, yang kini telah mampu tampil dalam berbagai panggung kesenian di berbagai daerah di Indonesia, bahkan pentas di luar negeri. Meski berhasil menjadi masyarakat seni, penduduk desa lima gunung tersebut tidak berganti profesi dan tetap menjadi petani. Festival lima gunung yang digagas sutanto diselenggarakan setiap tahun, sejak 2001, dengan melibatkan para penghayat kebudayaan, masyarakat dari lima gunung yaitu, Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Menoreh. Baik penampil maupun penonton diajak merayakan kemerdekaan berekspresi dan mengapresiasi.
Texto: Wikipedia en indonesio, CC BY-SA 4.0. · Imagen: Nurul Dani (CC BY-SA 4.0) ·